Tampilkan postingan dengan label Cerita Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Februari 2011

Novel Asyik 4Salim

Banjar di siang hari..

Matahari hampir tegak lurus dengan orang-orang yang sedang sibuk beraktifitas di kota kecil itu. Temperature-nya mungkin sekitar 30 derajat atau lebih. Sudah beberapa bulan ini memang air hujan enggan untuk turun ke bumi, karena ia menunggu titah Sang Pencipta untuk jatuh di waktu yang tepat..


Di salah satu sudut kota, tampak kumpulan orang memadati satu-satunya stasiun kota yang sudah berumur puluhan tahun itu. Beberapa orang sudah terbiasa menghabiskan hari di sini.. mas-mas yang memangku dagangan asongan, si mbok yang menggendong bakul berisi sayur dan lontong untuk membuat pecel, lelaki paruh baya yang membawa beberapa tangkai mainan boneka kertas, sekilas mirip wayang kulit.. juga sekumpulan anak-anak yang membawa susunan tutup botol yang ia rangkai dalam sabatang kayu untuk mengiringinya melantunkan lagu-lagu indah di dalam kereta nanti..

Semua tempat duduk sudah dipenuhi oleh calon penumpang yang hendak bepergian meninggalkan kota Banjar, entah ke arah Barat atau Timur.. tapi kalo dilihat dari cara berpakaian mereka dan barang bawaannya, kemungkinan mayoritas dari mereka adalah calon penumpang kereta Pasundan yang tidak lama lagi akan sampai di stasiun ini, dan siap mengantarkan para penumpang hingga ke ujung Timur pulau Jawa.

Ya, alat transportasi ini masih menjadi primadona masyarakat, terutama masyarakat kalangan menengah ke bawah. Selain murah, setiap orang bebas membawa barang apa pun yang hendak mereka sertakan.. mulai dari karung, dus, sepeda, bahkan sesekali terdengar kokok ayam di bawah kursi penumpang. Tidak usah dibayangkan tentang kenyamanan selama perjalanan. Namun walau bagaimana pun, kereta itu tetap setia mengantarkan mereka ke tempat tujuan.. setiap hari.. dari Barat ke Timur, dari Timur ke Barat.. dan menjadi saksi segala peristiwa, kebahagiaan dan kesedihan jutaan orang yang ada di dalamnya..

Siang itu.. seorang pemuda berjaket hitam sedang asyik membaca buku di salah satu tempat duduk di stasiun. Tas ransel berukuran sedang ia simpan tepat di depan kakinya. Sesekali ia tersenyum, sesekali ia mengernyitkan dahi, dan lain waktu ia terlihat tertegun, berfikir serius dan mengangguk-anggukkan kepalanya.. ternyata ia sedang mambaca sebuah novel, novel berjudul "Ayat-Ayat Cinta" karangan Habiburrahman El Shirazy, yang baru ia beli beberapa hari yang lalu dari Masjid Kampus sebelum pulang ke Banjar. Novel yang sarat hikmah, mengandung motivasi, inspirasi, dengan tidak melupakan unsur-unsur sastra dan romantisme dalam ceritanya. Ia yakin suatu hari nanti novel ini akan menjadi best seller, dan layak mendapatkan penghargaan..

Oh ya, namanya Aga, Aga Mahardika.. namun neneknya biasa memanggilnya Adin.. seorang Mahasiwa di salah satu perguruan tinggi ternama di Jogjakarta. Saat ini ia baru memasuki semester 3 perkuliahannya..

Dan yang ditunggu-tunggu pun datang..

TUT TUUUT TUT TUUUUUT!!!!

Suara kelaksonnya melengking membangunkan si Mbah yang sedang tidur lelap di samping Adin, ternyata ia hendak pergi ke Sidareja. Dengan tanpa komando, secara serempak orang-orang bangun dari tempat duduknya dan menghampiri kereta yang hampir berhenti..

Sesaat setelah pintu dibuka, orang-orang dengan serta merta berdesak-desakan untuk bisa masuk dan mendapatkan tempat duduknya masing-masing. Adin yang tau kemana si Mbah yang duduk bersamanya tadi akan pergi mencoba membantunya untuk masuk dan mencarikan tempat duduk untuk beliau.. namun usaha Adin sia-sia.. alih-allih bisa mendapatkan kursi kosong untuk si Mbah, untuk jalan di lorong itu pun cukup sulit saking penuhnya. Dengan sedikit berdesak-desakkan Adin menuntun si Mbah ke tengah gerbong yang agak longgar.. dan tiba-tiba seorang perempuan berkerudung merah bangkit berdiri dan berkata,

"Bu, silahkan Ibu duduk di sini..."

Adin pun menuntun si Mbah ke tempat duduk perempuan berkerudung merah tersebut.

"Terima kasih ya Nduk..", ucap si Mbah sambil tersenyum..

Adin pun menyusul mengucapkan terima kasih, "Terima kasih Mba.."

Tanpa sengaja Adin mengangkat kepalanya dan melihat wajah perempuan berkerudung merah tersebut.. dan.. SUBHANALLAH... lirihnya dalam hati.. dan seketika Adin menundukkan kembali pandangannya sambil beristighfar.. ada desiran halus di dalam hatinya ketika melihat wajah perempuan tersebut.. dan Adin tau bahwa setan akan memainkan peranannya waktu itu..

"Sama-sama Mas.. " Suaranya yang halus sekali lagi menggetarkan hati Adin, kembali dia memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang tau akan kelemahan manusia..

Adin dan perempuan berkerudung merah itu kini berdiri dengan jarak yang tidak begitu jauh. Cukup lama keduanya terdiam hingga akhirnya perempuan berkerudung merah pun membuka pembicaraan..

"Neneknya Mas?"

"Oh.., eh.., bukan Mba.. Tadi kami kenalan di Stasiun.. beliau mau ke Sidareja.." Jawab Adin agak sedikit gugup.

"Oh saya kira neneknya Mas.. memang Mas sendiri mau ke mana?"

"Saya mau ke Jogja Mba.."

"Ke Jogja? sama dong Mas.. saya juga mau ke Jogja.. Mas kuliah ya? kuliah dimana? jurusan apa? angkatan berapa?" perempuan itu tampak antusias mengetahui pemuda yang ada di hadapannya sama-sama akan pergi ke Jogja, dan ia senang ada teman untuk berbincang selama di perjalanan..

"Saya kuliah di UGM jurusan ELINS angkatan 2004″

"Oh ya? Kebetulan.. Saya juga kuliah d UGM lho Mas, jurusan Kedokteran.."

HAH! KEDOKTERAN UGM? hati Adin sangat kaget mendengar bahwa perempuan yang berada di hadapannya ini, dengan penampilan sederhana, menggunakan baju putih bermotif bunga, bercelana jeans dan menggendong tas ransel.. rasanya sulit dipercaya kalo dia mahasiswi Kedokteran UGM, bagaimana mungkin anak Kedokteran UGM, perempuan, mau naik kereta ekonomi seperti ini sendirian.. banyak tanda tanya di dalam hati Adin..

Sementara perempuan yang di depannya terus berbicara sulit dibendung..

"Saya baru masuk tahun ini.. kemarin saya habis pulang dulu ke Bandung menghadiri nikahan kakak saya.., eh ELINS itu apa toh Mas? kok saya baru denger.."

"Elektronika Instrumentasi Mba, di fakultas MIPA.."

"Oh.. ada ya? wah.. maklum Mas, saya ini kurang gaul, hehe.. oh ya, gimana Mas perasaannya setelah satu tahun menjadi mahasiswa? asyik ya?"

"Ya.. Alhamdulillah Mba.."

"Lho, kok cuma Alhamdulillah.. kayaknya Mas ini orangnya aktif di organisasi ya? ikut apa aja Mas?"

Belum sempat Adin menjawab pertanyaan itu, kereta sudah sampai di Stasiun Sidareja, si Mbah yang tadi duduk di tempat perempuan itu bangkit berdiri, pamit dan segera menuju ke pintu kereta dengan tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Adin dan perempuan berkerudung merah tersebut..

Perempuan itu pun kembali duduk di kursinya.. sebenarnya ia masih ingin banyak berbincang dengan pemuda yang baru ia kenal tersebut.. tetapi dengan kondisi duduk seperti itu sementara Adin berdiri di tempat yang sedikit memiliki jarak, agak sungkan untuk berbincang-bincang dalam kondisi tersebut.. tidak enak dengan orang-orang yang ada di sekitarnya..

Sementara jauh di lubuk hatinya, ada sedikit rasa kagum dengan pemuda yang baru dikenalnya.. pemuda yang mau menolong seorang nenek tua yang baru dikenalnya.. sikapnya santun, dan satu hal yang membuat ia sedikit heran, selama ia berbincang dengannya, pemuda itu tampak tidak mau bertatap muka dengannya, ia lebih sering tertunduk dan melihat ke sekeliling, hanya sesekali saja ia melihat dirinya.. namun dengan cara berkomunikasi seperti itu, ia pun tidak merasa bahwa dirinya tidak dihormati, tidak.. bahkan ia merasa dirinya sangat dihormati.., karena selama ini, jika ia berbicara dengan lawan jenis, ia seringkali merasa tidak nyaman dengan tatapan lawan bicaranya itu.. namun kali ini berbeda..

Adin masih berdiri, ia kembali melanjutkan pengembaraannya bersama Fahri di dalam novel "Ayat-Ayat Cinta", ia sudah sampai di bagian ketika Fahri mengkhitbah wanita yang ternyata itu adalah Aisha, perempuan yang pernah ia kenal dalam sebuah peristiwa di kereta..

Sementara Adin sedang asyik dengan novelnya, ternyata perempuan berkerudung merah itu sesekali mengamati Adin dari tempat duduknya.. ia sebetulnya penasaran buku apa yang sedang dibaca pemuda itu.. sepertinya ia begitu asyik membaca lembar demi lembar buku tersebut..

Kali ini Adin menyerah.. sudah sampai Kebumen, tapi nampaknya belum ada juga kursi kosong, ia sudah tidak kuat lagi untuk berdiri, akhirnya ia duduk beralaskan koran yang sudah ia siapkan dari rumah.. ya, ini adalah hal biasa baginya.. duduk beralaskan koran, dilalui orang yang lalu lalang, mulai dari pedagang, pengemis, pengamen.. semua itu sudah biasa baginya..bahkan kalo perjalanan malam hari ia juga sudah terbiasa tidur di gerbong kereta beralaskan koran.. semuanya bisa ia nikmati..

Kereta pun terus melaju kencang.. melewati area pesawahan, menembus hutan, membelah bukit, menyeberangi sungai.. sementara orang-orang yang ada di dalamnya kini lebih banyak yang terlelap, mungkin mereka cukup lelah dengan perjalanan yang panjang dan dalam kondisi udara yang cukup panas ini.. tak terkecuali Adin dan perempuan berkerudung merah itu.. mereka sedang asyik dengan mimpinya masing-masing..

Dan tak lama berselang, kereta pun sudah sampai di wilayah Jogja.. daerah yang tadi dilalui hanya hamparan sawah dan bukit, sekarang sudah berjejer deretan rumah di kanan dan kiri rel kereta api.. sesekali terlihat antrian kendaraan yang setia menunggu untuk membiarkan kereta ini lewat membelah jalan.. dan akhirnya kereta pun sampai di Stasiun Jogja.. namun tidak di sini, kereta ini tidak akan berhenti di sini.., stasiun itu hanya diperuntukkan bagi kereta-kereta yang ditumpangi oleh kalangan menengah ke atas.. jadi mereka harus sedikit bersabar untuk sampai di stasiun berikutnya..

TUUT TUUUT TUUUUUUT!!!

"SELAMAT DATANG DI STASIUN LEMPUYANGAN"

Nah di sini lah kereta itu akan berhenti, dan di sinilah Adin dan perempuan berkerudung merah itu beserta para penumpang yang hendak ke Jogja mengakhiri perjalanannya siang itu.. perjalanan yang sangat melelahkan..

Adin segera bangkit dari duduknya dan siap-siap untuk menuju pintu keluar.. sementara perempuan berkerudung merah pun mulai menyiapkan diri..

Ketika kereta berhenti, perempuan berkerudung merah itu mulai berjalan menuju pintu keluar, namun ia melihat ada buku tergeletak di tempat dimana pemuda tadi duduk.. ia segera mengambil buku itu, dan saat ia mau berteriak memanggil pemuda itu, dia sudah lenyap diantara kerumunan orang yang keluar dari kereta.. ia coba segera keluar, tapi nihil.. ia tidak bisa menemukan pemuda itu..

Ia lantas melihat novel itu, "Ayat-Ayat Cinta" dan membuka covernya barangkali ada identitas di dalam buku tersebut.. dan di halaman pertama, di pojok kanan bawah, sebuah paraf dan sebuah nama tertulis di sana.. SALADIN..

Ia kini tau bahwa pemuda yang tadi sempat berbincang di kereta dengannya, meski tidak sempat berkenalan, bernama SALADIN.. ia kuliah di jurusan ELINS UGM angkatan 2004.. mudah-mudahan informasi itu cukup untuk mencarinya dan mengembalikan buku yang kini berada di tangannya..

-- to be continued --

=======================

Balikpapan, 17 Juli 2010 : 17.57 WITA

Oleh: Kang Agus Haeruman

Selasa, 04 Januari 2011

Novel Asyik 4Salim

Ketika mas Gagah Pergi
Part 1

Oleh : Helvi Tyana Rosa

Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!

Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !Mas Gagah juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.

Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku.

Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat.Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelocon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan-makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan Ancol.

Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya.

"Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?"

"Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang rumahku suka membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?!"

"Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?"

Dan banyak lagi lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku Cuma mesem-mesem bangga.

Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum juga punya pacar. Apa jawabnya?

"Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! He..he..he…"Kata Mas Gagah pura-pura serius.

Mas Gagah dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tetapi tidak pernah meninggalkan shalat!

Itulah Mas Gagah!

to be continued

Sabtu, 20 Desember 2008

Novel Asyik 4Salim

tiga: Kota IDAMAN

Oleh: Kang Agus H.

Banjar: Juni 2024

Malam itu, Sang Nenek sedang duduk di atas dipan sambil melipat beberapa helai baju yang akan dibawa cucunya pergi ke tempat tinggal barunya esok hari. Sementara itu, Sang Cucu sedang tertidur pulas di sampingnya, setelah lelah ikut mempersiapkan barang-barang yang akan dibawanya esok. Tiada yang menemani Sang Nenek selain cahaya lampu tempel yang setengah redup dan suara jangkrik di belakang rumah yang terdengar nyaring di kesunyian malam. Tak lama, muncul suara lirih disertai isak yang keluar dari mulut Sang Nenek, betapapun ia menahan agar suara itu tidak keluar, namun air matanya membuat ia tak kuasa menahan diri untuk tidak menangis. Ia khawatir membangunkan cucunya yang sedang terlelap. Namun apa yang ia khawatirkan justru berlaku, Sang Cucu terbangun dari alam bawah sadarnya, dan seketika melihat neneknya sedang berurai air mata. “Nek… Nenek kenapa? Kenapa nenek menangis…?” Bukannya mereda, air mata Sang Nenek malah mengalir deras disertai isak yang tetahan di dalam dadanya.

Seakan mengerti dengan apa yang terjadi dengan neneknya, Sang Cucu lantas mengambil segelas air minum dan memberikannya pada Sang Nenek, kemudian ia baringkan badannya di pangkuan neneknya. Setelah meminum air yang disuguhkan cucunya, Sang nenek berusaha menghentikan tangisnya. Sambil menatap dalam ke arah cucu yang kini terbaring di pangkuannya, ia mengusap rambut cucunya yang lurus dan halus, sambil menyampaikan kegelisahan dan kesedihan yang dialaminya saat itu.

to be continued…

Sabtu, 15 November 2008

Novel Asyik Forsalim, Sehat di Baca

(Baiknya dibaca ketika semangat mulai kendur)

SALADIN Sang Perubah Zaman…

Oleh:

Uyut Haeruman

satu: Seorang Yatim Piatu dari Jadimulya

Indonesia : Agustus 2030

Delapan belas tahun yang lalu, ia mulai terlahir ke dunia ini. Tepatnya pada tanggal 12 Agustus 2012, di sebuah perkampungan di sebelah Timur daerah Jawa Barat bernama Jadimulya. Betapa malang nasibnya, karena semenjak ia lahir ia belum pernah bertemu dengan Ayahnya yang meninggal dunia pada Tragedi Jakarta beberapa bulan sebelum ia dilahirkan.

Tak lama setelah ia terlahir ke dunia, mendapatkan belaian kasih dari seorang ibu, ternyata suratan takdir yang lain telah menunggunya. Takdir yang menghendaki ia mendapatkan pengajaran dari Rabb-nya, seolah ia disiapkan untuk bisa kuat dalam menghadapi berbagai ujian hidup sejak ia lahir, karena kelak ia akan memikul beban yang amat berat dipundaknya, beban yang dapat merontokkan tulang punggung, memecahkan otak yang lelah berfikir, memeras keringat yang tak akan pernah berhenti mengalir karena ia disiapkan untuk menjadi perubah zaman. Zaman yang telah jauh dari nilai-nilai kebenaran, kasih sayang, kedamaian dan kesejahteraan. Zaman yang telah diliputi dengan kegelapan dan kebodohan ditengah gemerlap modernisme, ditengah kemajuan teknologi yang tak berperadaban dan ditengah cengkraman pemimpin yang dzalim yang menjadi babu bagi Fir’aun Millenium Ketiga.

Belum genap dua tahun ia bersama Ibu yang mencintainya, mendidiknya dan mengasuhnya dengan sepenuh hati, ternyata Sang Ibu dipanggil oleh Kekasihnya terlebih dahulu. Sakit yang diderita ibunya begitu singkat, hingga mengantarkannya untuk bertemu dengan Malaikat Izrail yang datang tersenyum menyapanya. Di malam itu, ketika payah memenuhi seluruh raga, Si Kecil duduk disampingnya bersama Sang Nenek. Sang Ibu tak kuasa untuk meninggalkan si kecil yang waktu itu baru pertama kali bisa mengucapkan sebuah kalimat lengkap berbunyi “Adin Tinta Umi kalena AllahSalam buat Abi ya Umi…“. Kata-kata yang mengalir begitu saja dari mulutnya yang mungil itu, meruntuhkan hatinya yang setegar karang, hingga ia tak kuasa menahan air matanya untuk mengalir deras, seolah si kecil sudah tau bahwa ia akan berpisah dengan Ibunya untuk selamanya. Namun bola mata Si Kecil memancarkan sinar Kekuatan, seolah Ia telah siap menerima segala yang akan ia alami, dan hal itulah yang dapat menenangkan hati Sang Ibu, hingga kemudian ia pun tersenyum yakin kepada Sang Khalik yang akan memeliharanya sambil berdo’a ” Ya Allah kutitipkan Ia pada-Mu…“, dan setelah itu pun Sang Ibu tertidur dengan penuh kedamaian.

Rumah panggung yang berada disamping sungai itu kini semakin sepi, karena yang tinggal hanyalah seorang Nenek bersama Cucunya. Cucunya yang malang karena ia sekarang sudah Yatim Piatu. Tidak ada lagi belaian Sang Ibu yang menina-bobokannya dengan lantunan ayat-ayat Al Quran yang mangalun indah yang keluar dari mulut yang basah karena dzikir kepada Allah. Tidak ada lagi yang membuatkan kapal-kapalan dari daun kelapa sambil memberi nasihat, “ Nanti Adin kalo udah besar harus bisa bikin kapal yang beneran ya… Biar nanti bisa ajak Umi dan Nenek keliling dunia “.

Sang Nenek duduk di bawah pohon depan rumah, sementara cucunya tertidur pulas disampingnya, karena lelah bermain. Seketika itu, ia membuka sepucuk surat yang pernah ditulis Menantunya sehari sebelum ia meninggal dunia.

Assalamu’alaikum wr wb.

Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Allahumma shalli ‘ala Muhammad.

Ibunda yang saya cintai, sebelumnya saya ingin menyampaikan beribu terima kasih atas segala kebaikan Ibu selama ini. Sungguh, setelah saya menikah dengan Mas Agha, saya merasakan kembali bagaimana rasanya memiliki seorang Ibu, untuk itulah saya menganggap Ibu sebagai ibu kandung saya sendiri.

Pernikahan saya dengan Mas Agha merupakan anugerah yang amat besar yang Allah berikan untuk saya. Beliau adalah suami yang sangat saya cintai. Sejak saya mengenal beliau di kampus, saya mendapati beliau adalah orang yang dipenuhi dengan berbagai sifat kebaikan yang Allah berikan untuknya. Dan saya sangat terkejut ketika Allah mentakdirkan kami untuk bersama, maka semakin nyatalah di mata saya kebaikan-kebakkan yang Mas Agha miliki selama ini.

Beliau adalah suami yang ta’at beribadah, penuh tanggung jawab, peduli terhadap sesama dan sangat gigih dalam memperjuangkan hak-hak agamanya. Saya yakin sifat-sifat semacam itu tidak terlepas dari hasil didikan yang Ibu berikan kepadanya semenjak kecil.

Setelah kami mengetahui bahwa kami dikaruniai seorang anak, batapa bahagianya Mas Agha waktu itu. Sampai-sampai dia menggendong saya dari dalam Rumah Sakit sampai ke pintu mobil, tanpa menghiraukan orang-orang yang keheranan di sepanjang jalan yang kami lewati. Kami pun semenjak itu mulai merencanakan hal-hal yang berkaitan dengan masa depan anak kami. Mulai dari merencanakan nama, merencanakan tempat tinggal baru dan merencanakan pendidikan yang bisa ia dapatkan dikemudian hari. Bagitu banyak mimpi yang kami buat bersama waktu itu.

Namun malang, ternyata takdir berbicara lain. Mimpi tinggallah mimpi…, mimpi yang kami bangun sedemikian tinggi tiba-tiba hancur dengan sebuah kejadian yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Ya, Tragedi Jakarta itu Bu…, tragedi yang menghapus segala harapan banyak orang. Manakala Mas Agha mau menyampaikan pidato pertamanya setelah ia dinobatkan untuk menjadi pemimpin negeri ini, tiba-tiba sebuah peluru yang tak berdosa bersarang di dadanya. Membuat negeri ini bergoncang hebat karena mereka tidak kehilangan seorang manusia, akan tetapi mereka kahilangan masa depan yang selama ini ia cita-citakan.

Adapun saya sendiri Bu, saya hanya bisa menjerit, terpaku karena mimpi buruk yang datang disiang bolong itu. Saya tidak pernah membayangkan semuanya akan berakhir demikian. Bahkan sejak awal Mas Agha memang tidak mau dicalonkan untuk menjadi Pemimpin Negeri ini, namun karena begitu besarnya kepercayaan yang diberikan ummat kepadanya, akhirnya Mas Agha pun menerima.

Dan setelah kejadian itu, separuh nyawa saya seakan hilang bersama Mas Agha. Harapan saya untuk hidup di dunia ini seakan tidak berarti, sampai kemudian Allah menegur saya dengan keberadaan anak yang saya kandung. Bayi yang berumur 7 bulan dalam kandungan saya waktu itu, seolah membisiki hati nurani saya bahwa saya tidak boleh berputus asa atas musibah yang Allah berikan. Dan sejak saat itulah harapan saya kembali muncul, mencoba merangkai kembali impian-impian yang pernah saya bangun bersama Mas Agha, tentang masa depan anak kami. Akhirnya saya pun berhasil bangkit untuk memberikan hal terbaik yang bisa saya berikan bagi anak saya.

Namun Bu, entah kenapa, setiap kali saya melihat Adin kecil, saya selalu teringat dengan Mas Agha. Dan membuat saya kembali mengenang memori-memori indah yang pernah kami lalui bersama. Sakit rasanya Bu, ketika memori itu datang dan kemudian terbentur dengan kenyataan. Dan mungkin itu pula yang membuat saya sekarang ini sering sakit-sakitan. Saya sudah mencoba untuk lebih memikirkan masa depan adin, namun entah kenapa Bayangan Mas Agha selalu hadir dalam tidur saya akhir-akhir ini, seolah ia mengajak saya untuk tinggal bersamanya dan meninggalkan Adin kecil.

Saya mencoba untuk melawan bayangan tersebut karena saya yakin Adin lebih membutuhkan saya daripada bayangan Mas Agha yang hanya hadir membayangi saya. Namun entah kenapa akhir-akhir ini bayangan tersebut seringkali muncul. Dan di mimpi yang terakhir, bahkan Mas Agha berpesan kepada saya, “Titipkanlah Adin kepada Allah…” . Sejak saat itulah sakit saya semakin menjadi. Dan saya merasa waktu saya di dunia ini tidak akan lama lagi. Untuk itulah saya menuliskan sepucuk surat ini untuk ibu. Agar suatu saat nanti Adin tau apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. Dan kami yakin ibu bisa melanjutkan harapan kami terhadap Adin. ia harus tumbuh menjadi Pemuda yang Kuat, yang tertanam pada dirinya segala sifat kebaikan yang diwarisi ayahnya, menjadi pejuang bagi agamanya, bermanfaat bagi orang-orang disekitarnya dan yang terpenting Ia satu hal terbesar yang kami harapkan dari Adin di kemudian hari adalah dia bisa menjadi “Sang Perubah Zaman”, yang bisa membuat dunia ini kembali tersenyum dalam naungan cahaya Ilahi yang diperjuangkan oleh orang-orang yang ikhlas berjuang di jalan-Nya.

Demikian surat ini saya buat, tolong sampaikan kepada Adin, “Umi Nisa sayang sekali sama Adin…

Anakmu,


Annisa

………

dua: Masa Kecil dan Persahabatan

Jadimulya : Juli 2018

Hari berganti hari, masa berganti masa. Adin kecil kini sudah berumur 6 tahun. Empat tahun dalam asuhan Sang Nenek ternyata mampu membentu Adin kecil menjadi seorang anak yang Sehat, Cerdas, dan Atraktif. Mungkin banyak faktor yang membentuknya sedemikian. Darah yang mengalir di dalam tubuhnya merupakan perpaduan dari dua insan sholih, yang menjadi panutan di masyarakatnya. Yang membuat dunia tersenyum ketika menyaksikan janji suci yang pernah terucap di antara mereka, sebagai pertanda akan lahirnya manusia pilihan yang akan meneruskan risalah perjuangan rasulnya. Manusia pilihan yang akan mengubah wajah dunia yang kini sedang muram. Dia adalah manusia biasa yang dibimbing oleh Rabb-nya dengan berbagai hikmah hidup yang akan ia jalani. Dan saat ini, Adin kecil sedang menjalani masa-masa kecilnya yang penuh warna, kepolosan dan persahabatan. Ia belum tau kehidupan semacam apa yang akan ia hadapi di kemudian hari, yang ia tau saat ini ia diajarkan neneknya untuk menjadi murid yang baik di hari pertama ia masuk sekolah.

Jadimulya merupakan daerah pegunungan yang masih masih alami, hutan-hutan yang rindang dengan pohon-pohon besar dan dihuni hewan-hewan liar, bahkan tak jarang sering terlihat monyet-monyet bergelantungan di dekat rumah di tepi sungai Ciranto . Sungai tempat adin bermain dengan teman-temannya, berenang atau menangkap ikan ketika musim kemarau datang. Airnya jernih dan tempatnya sejuk, karena banyak ditumbuhi pohon-pohon rindang ditepinya. Airnya yang dangkal, banyak kerikil dan alirannya yang tidak terlalu deras, sehingga cocok dijadikan tempat bermain bagi Adin dan teman-temannya .

Tidak jauh dari belakang rumah, terdapat pesawahan yang berbentuk terasering. Beberapa lahan sawah tersebut miliki Sang Nenek, dan di salah satu petak sawah tersebut terdapat satu saung yang mereka biasa menyebutnya saung nenek. Tempat di mana Adin dan teman-temannya sering berkumpul. Kadang Adin sendiri dan kadang juga bersama teman-teman karibnya, Ali, Bima dan Saski. Merekalah teman-teman yang biasa mengisi lembaran masa kecil Adin di Jadimulya.

Ali teman sebangku Adin di sekolah, dia putra Pak Ustadz Karim. Anaknya pintar dan selalu masuk 5 besar di kelas. Baca Al Qurannya sangat fasih, dan lebih fasih dari Adin, mungkin karena didikan orang tuanya. Ketika berumur 5 tahun, Ali sudah hafal Juz Amma. Ustadz Karim amat perhatian dalam mendidik Ali, anak satu-satunya itu. Ibu Ali meninggal saat Ali berumur 4 tahun karena sakit parah, sehingga Ali betul-betul mendapatkan kasih sayang dari ustadz Karim. Ya, mungkin Ali sedikit lebih beruntung daripada Adin, karena ia masih memiliki Ayah yang membersamainya. Kehidupan Ustadz Karim memang sangat sederhana, tapi Ali tidak pernah mengeluh dan merasa kekurangan. Selain mengajar ngaji, Ustadz Karim juga berprofesi sebagai Petani Bayaran, menggarap sawah punya orang lain yang tinggal di kota, dan dia dapat upah dari hasil garapannya tersebut.

Bima lebih beruntung daripada Adin dan Ali. Kedua orang tuanya masih ada dan kehidupannya sangat berkecukupan. Ayah Bima menjadi orang terpandang di kampung. Beliau pemilik perkebunan pohon jati yang sangat luas, yang hasil kayunya biasa beliau jual ke kota-kota besar. Namun meskipun berkecukupan, Bima dan keluaganya sangat bersahaja. Mereka sangat baik dan perhatian terhadap kondisi masyarakat sekitarnya. Ayah Bima menjadi donatur tetap SD Jadimulya, bahkan beliau adalah salah seorang yang mempelopori berdirinya SD Jadimulya tersebut. Kearifan dan kesahajaannya orang tuanya itu pula yang mewarisi sikap Bima, meskipun dia anak orang berada, tapi tidak pernah sombong dan biasa berbaur dengan teman-temannya yang lain. Adin, Ali sama Saski sering diajak bermain ke rumahnya dan sering disuguhi makan-makanan yang enak oleh ibunya.

Satu-satunya teman perempuan yang sering bermain dengan Adin dan teman-temannya adalah Saski. Ibunya seorang guru di SD Jadimulya, Bu Fitri namanya. Bu Fitri bersikap sangat baik terhadap Adin, kebaikannya bukan hanya karena Adin adalah anak yang cerdas di sekolah, tapi karena simpatinya yang besar melihat keadaan Adin yang haus kasih sayang dari orang tua.

Betapapun Sang Nenek telah mengurus, mengasuh dan mendidik Adin dengan penuh kasih sayang, Sang Nenek yang kini berusia 55 tahun itu tentunya tidak bisa menggantikan peran Sang Ibu yang Adin harapkan, sehingga kehadiran Bu Fitri dalam hidupnya seolah mengisi kekosongan tersebut. Adin telah lupa bagaimana rasanya kasih sayang seorang ibu, karena saat-saat yang dialami bersama Sang ibu, adalah saat-saat dimana ia belum bisa menyimpan seluruh memori dibenaknya. Ia hanya bisa melihat senyum tulus Sang Ibu dari selembar potret yang sudah usang, sambil membayangkan kehangatan yang mungkin ia rasakan ketika Sang Ibu mendekap tubuh mungilnya, membayangkan ketika Sang Ibu bercanda menggelitikinya, hingga keluarlah gelak tawanya. Ya.. itulah yang biasa Adin bayangkan ketika melihat anak seumuran itu beserta ibunya.

Saski anak yang cantik, baik hati, periang dan pandai. Sejak kelas satu, ia selalu menjadi saingan Adin di kelas dalam memperebutkan rangking satu. Tapi meksipun saling bersaing, mereka tidak pernah bermusuhan, bahkan Adin sudah menganggap Saski sebagai adiknya sendiri. Mereka sering belajar bersama. Sore menjelang maghrib, Adin biasa menjemputnya untuk berangkat mengaji di Masjid dekat rumah Ali. Saski juga pandai dalam mengaji, terlebih salam membaca tilawah, karena suaranya yang bagus. Semenjak kelas 3 Ustadz Karim biasa meminta ia untuk mengajar anak-anak dibawah usianya. Karena suaranya yang bagus itu, Ustadz Karim mengajarinya Qiro’ah, baca Al Quran dengan lagu. Dan Saski biasa diminta menjadi pembaca tilawah Al Quran jika ada acara Pengajian Akbar, atau peringatan Hari-Hari besar Islam di sekolah. Bahkan ia selalu jadi juara MTQ di Kecamatan.

Saski mulai menggunakan jilbab sejak kelas 3 SD, atas kemauannya sendiri. Waktu belum menggunakan jilbab, dia biasa mengikat rambutnya yang terurai panjang dengan satu ikatan di belakang. Dan di ulang tahunnya yang ke-8, Adin memberi hadiah sebuah ikat rambut. Ikat rambut yang terdapat hiasan dua ekor angsa berwarna kristal bening yang saling berhadapan, dan kepalanya kedua angsa itu membentuk hati. Hadiah tersebut Adin beli dari hasil menabungnya selama sebulan. Semenjak Saski menggunakan jilbab, Adin belum pernah lagi sekalipun melihat angsa itu menempel di rambutnya.

Merekalah teman-teman akrab Adin ketika kecil. Mereka biasa menghabiskan hari bersama, bermain, berbagi cerita, berkhayal tentang cita-cita, dan lain sebagainya. Hampir setiap hari sepulang Sekolah, mereka bermain dan belajar di saung nenek, dan tanpa terasa hal itu mereka lakukan sejak mereka saling mengenal di sekolah hingga sekarang menginjak semester akhir di kelas 6.

Ya, Semester akhir kelas 6, dan itulah saat-saat terakhir mereka menghabiskan waktu bersama. Karena tidak lama kemudian mereka berpisah untuk melanjutkan sekolah di tempat yang berbeda. Ali melanjutkan sekolahnya di Gontor, Bima bersama Pamannya di Jakarta dan Saski bersama Bu Fitri yang dialih tugaskan ke daerah asalnya di Jawa Tengah, di Purworejo. Sedangkan Adin, Sang Nenek menitipkannya pada Sang Paman untuk bersekolah di Kota tempat dimana ayahnya dibesarkan, Banjar.

Sebelum berpisah, mereka membuat prasasti dengan menuliskan nama masing-masing di sebuah batu yang tidak terlalu besar. Di permukaan batu itu mereka menuliskan,

- ADIN -

- ALI -

- BIMA -

- SASKI -

“SAHABAT SELAMANYA”

Mereka menyimpan batu itu di dalam kaleng kue bekas, kemudian menguburkannya di bawah saung nenek, dan sejak itu mereka belum pernah bertemu kembali…